from BTemplates!

pertanian sawit


Hobi

Pengembang Pertanian Terintegrasi di Tengah Kebun Sawit

Ir. H. Agus Karim
Sosok Ir. H. Agus Karim terlihat santun dan rendah hati meskipun sebenarnya ratusan hektar kebun sawit dimilikinya. Secara finansial Agus Karim lebih dari ukuran mapan dan bisa menikmati kehidupan dengan tenang. Akan tetapi bagi beliau “long life education” atau hidup adalah kesempatan untuk terus belajar.
Lahir di Brebes 7 Mei 1960, Bapak yang lebih akrab di sapa Pak Agus, ini menyelesaikan pendidikan S1 Pertanian di Universitas Sudirman (Purwokerto) pada tahun 1985.  Selanjutnya ia bekerja di PT. Palembaja (tahun 1987 – 1990) dan PT. Tania Selatan (tahun 1990 – 2006).
Pada tahun 2002  Ir. H. Agus Karim didorong profesi dan hobinya mulai membuka usaha perkebunan sawit.  Lalu pada tahun 2007 Ir. H. Agus Karim memutuskan untuk berhenti bekerja pada PT. Tania Selatan dan fokus menjalankan usahanya sendiri. Lokasi perkebunan milik Pak Agus berada di Dusun I Desa Lubuk Lancang Kecamatan Betung (Simpang SD Meranti) Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan. Luas perkebunan sawit yang dimiliki saat ini ± 170 ha.
Di tengah kesibukannya  sebagai pengusaha sawit, ternyata Agus mempunyai ketertarikan di bidang pertanian lainnya. Keingintahuan yang besar terhadap hal-hal baru menghantarkannya pada usaha tani yang dimulai dari pemikiran sederhana. Pada saat itu pemikiran yang muncul bersumber dari kebutuhan pupuk untuk tanaman sawitnya. Sawit memerlukan banyak pupuk untuk perawatannya jadi “kenapa tidak mencoba membuat pupuk sendiri?”.
Menurut pandangan Agus Karim salah satu bahan pembuatan pupuk sederhana yang mudah dan sering dipakai adalah kotoran sapi. Dengan memanfaatkan lahan di sekitar perumahan karyawan yang berada di kebun sawit miliknya, Pak Agus membangun kandang sapi. Kemudian muncul permasalahan baru, sapi membutuhkan pakan setiap hari.
Ketersediaan rumput di kebun sawit miliknya memang tidak sedikit, akan tetapi karena insting beliau sebagai seorang intelek menggerakkan beliau mencari bahan alternatif pakan dari bahan yang tersedia di kebun sawitnya. Pilihan beliau jatuh pada pelepah sawit yang berserakan dan terbuang. Selanjutnya Pak Agus membeli mesin pencacah pelepah untuk mengubah pelepah sawit yang keras menjadi lebih lembut untuk dijadikan sebagai campuran pakannya. Pupuk yang diproduksi dicobakan pula untuk memupuk tanaman lain yang ditanam di sekitar kebunnya.

0 komentar:

Poskan Komentar