from BTemplates!

penangan pasca panen padi yang baik


Oleh: Dewa Ketut Sadra Swastika Data statistik menunjukkan bahwa sampai 1995/1996 kehilangan hasil pada saat panen dan pasca panen mencapai 20,5 persen (Tabel 3). Data kehilangan hasil tahun 2005-2007 memang cukup rendah yaitu 10,82 persen. Namun data tersebut tidak dapat dibandingkan dengan data sebelumnya karena dua alasan yaitu: (1) metoda pengukuran kehilangan hasil berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, (2) pengukuran kehilangan hasil hanya dilakukan pada musim kemarau, karena berbagai hambatan. Sementara itu, kehilangan hasil pada musim hujan jauh lebih tinggi dari pada musim kemarau. Untuk mendapatkan data kehilangan hasil yang mewakili kondisi sesungguhnya, seyogyanya pengukuran dilakukan pada kedua musim. Berdasarkan data tahun 1995/1996, kehilangan hasil terbesar terjadi pada saat panen, diikuti oleh perontokan (Tabel 3). Perbaikan teknologi harus diprioritaskan pada dua kegiatan ini, diikuti dengan teknologi pengeringan dan penggilingan. Jika total kehilangan hasil dapat ditekan dari 20,5 persen menjadi 10-15 persen, maka kontribusinya dalam produksi padi nasional akan cukup besar, bahkan dapat membebaskan Indonesia dari impor beras. Prof. Dr. Ibrahim Manwan (mantan Kepala Puslitbang Tanaman Pangan) telah lama mengungkapkan bahwa penurunan kehilangan hasil pada panen dan pasca panen merupakan prioritas kedua setelah peningkatan indeks pertanaman, dalam upaya meningkatkan produksi padi nasional. Tingginya tingkat kehilangan hasil padi terutama disebabkan oleh masih rendahnya penerapan teknologi, baik pada pemanenan, perontokan, pengangkutan, pengeringan maupun pada penggilingan. Dalam upaya memperbaiki penerapan teknologi pasca panen, dalam tahun 2009-2010, Direktorat Penanganan Pasca Panen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP), Kementerian Pertanian melaksanakan Proyek Strategi Peningkatan Sistem Pasca Panen Padi di Indonesia (Strategy for Improving the Rice Post Harvest System in Indonesia), dengan bantuan hibah dari FAO. Sebagian besar kegiatan proyek berupa pelatihan (training) untuk Penyuluh, Petugas Statistik Kabupaten, dan Kelompok Tani dalam Teknologi Penanganan Pasca Panen Yang Baik (Training Course on Good Post Harvest Handling) dan Metoda Pengukuran Kehilangan Hasil Padi (Training Course on Loss Assessment Methodology and Preparation for Loss Assessment). Selain itu, juga ada kegiatan pengkajian tentang: (1) Kendala petani, buruh tani, dan pedagang dalam penerapan teknologi pasca panen padi; (2) Pengukuran kehilangan hasil pada panen dan pasca panen; (3) Peran kelompok tani dan buruh tani dalam penerapan teknologi pasca panen padi; (4) Kinerja pemasaran gabah; dan (5) Studi peran gender dalam pasca panen padi. Karena keterbatasan dana dari FAO, maka pilot proyek ini hanya mengambil lokasi di dua kabupaten yaitu: Subang di Jawa Barat dan Lamongan di Jawa Timur. Berikut ini adalah deskripsi kondisi penanganan panen dan pasca panen di Indonesia, dengan kasus Kabupaten Subang dan Lamongan. Teknologi Panen Kriteria yang umum digunakan petani untuk menentukan waktu panen adalah ciri fisik, yaitu padi sudah menguning 90-95 persen. Panen umumnya dilakukan dengan memotong padi dengan sabit biasa. Untuk padi varietas unggul yang mudah rontok, jika sabit yang digunakan kurang tajam, akan menyebabkan banyak gabah yang rontok pada saat panen. Dari wawancara dengan petani dan buruh panen di Kabupaten Subang (Jawa Barat) dan Lamongan (Jawa Timur) diperoleh informasi bahwa sabit bergerigi yang pernah diintroduksikan oleh Ditjen PPHP-Kementerian Pertanian sulit diterima oleh petani dan buruh panen karena berbagai alasan: (1) terlalu tipis sehingga kurang kokoh, (2) hanya dapat digunakan untuk panen padi, tidak dapat digunakan untuk menyabit rumput pakan ternak, (3) tidak tersedia di pasar, karena tidak ada bengkel atau pande besi yang mau membuat sabit bergerigi. Setelah dipotong dengan sabit biasa, dilakukan penumpukan sementara sebelum dirontok. Penumpukan sementara padi umumnya tidak menggunakan alas, sehingga turut berkontribusi pada kehilangan hasil. Terlebih lagi jika penumpukan dilakukan berhari-hari, tentu kehilangan hasil akan lebih tinggi, baik karena susut kuantitas maupun mutu gabah. (Bersambung)

0 komentar:

Poskan Komentar